Rekan Kerja adalah Keluarga Kedua Kita

supportive-work-team

Masih tentang pekerjaan, ada satu unek-unek yang ingin saya share. Sebagai pekerja yang bekerja 7,5 jam tiap hari Senin sampai Jumat, volume pertemuan harian dengan rekan kerja bisa dibilang jauh lebih sering daripada dengan keluarga. Tiap hari kerja saya berangkat ke kantor dimulai pukul 07:00 dan pulang sampai rumah pukul 17:00. Sementara waktu saya dengan keluarga antara pukul 05:00 sampai pukul 07:00 atau dua jam, ditambah antara pukul 17:00 sampai pukul 22:00 (dengan asumsi setelah jam segitu berangkat tidur). Total waktu saya dengan keluarga hanya 7 jam per hari. Sungguh nyata bahwa waktu bertemu dengan rekan kerja lebih banyak daripada dengan keluarga.

Dengan kondisi yang demikian sangat risih bagi saya ketika sesama pegawai saling menjadi Sengkuni. Artinya sesama pegawai melakukan hal yang licik dan bahkan busuk dengan cara yang sangat pengecut. Bersaing itu wajar, tidak suka dengan rekan kerja juga wajar namun melakukan hal negative kepada rekan kerja itu sangat tidak wajar dan memalukan.

Read more

Menolak Permintaan Staf Kantor Pengacara

tolak

Suatu hari saya didatangi oleh salah satu staf Kantor Pengacara yang berada di lingkungan kantor saya. Dari pintu ruangan saya, dia memanggil saya. Tentu saya tolak dong, siapa dia bisa memanggil saya seperti itu. Saya persilahkan dia masuk ke ruangan saya. Lebih beradab seperti itu dan memang seharusnya seperti itu. Setelah masuk, ternyata dia hendak mengembalikan surat panggilan yang saya alamatkan untuk Kantor Pengacara dia. Kebetulan wilayah tempat Kantor Pengacara itu berada pada tanggung jawab saya. Waktu itu Pengacara tersebut sedang tidak ada di kantor jadi saya tinggal surat panggilan tersebut. Ya sudah, saya terima surat panggilan tersebut dan kemudian staf pengacara tersebut pulang.

Ternyata oh ternyata staf pengacara tersebut belum pulang. Bisa jadi dia sudah pulang tapi balik ke kantor saya lagi, yang jelas ketika saya keluar dari ruangan Read more

Pentingnya Memahami Program Kantor

schedule_clipart 450x300

Tahun ini kantor saya, Pengadilan Agama Banyumas, mendapat alokasi dana Pos Pelayanan Hukum (Posbakum) dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama. Beberapa Pengadilan Agama lain sudah menerima alokasi dana ini sejak beberapa tahun yang lalu, namun di kantor saya baru mulai tahun ini. Nominalnya ya lumayan lah, tidak terlalu banyak tapi juga tidak terlalu sedikit. Kalau penasaran berapa nominalnya, silahkan cek di website resmi Pengadilan Agama Banyumas.

Perhitungan pelayanan ini dilaksanakan per jam, bukan per konsultasi, selama 192 jam kerja. Dengan jumlah jam layanan 192 jam tersebut, kantor mengalokasikan untuk pihak ketiga pelaksana Posbakum waktu per hari hanya 4 jam. Dengan demikian waktu pelayanan berlangsung selama kurang lebih 2,5 bulan.

Read more

Lama Menjadi Pegawai Belum Tentu Paham Aturan

98723191e6438e9a5b6f2cf927a5482d

Pada suatu siang menjelang sore di bulan Maret 2015 ketika saya sedang asyik menyusun rancangan pengajuan Ganti Uang Persediaan, tetiba ada telepon dari pak bos agar datang ke ruangannya. Agak kaget juga tumben-tumbennya beliau memanggil, secara saya sedang tidak ada urusan dengan beliau. Sebagai informasi, pak bos yang ini bukan pimpinan tertinggi kantor namun adalah salah seorang unsur pimpinan di kantor saya.

Ketika saya masuk ke ruangan beliau, ternyata ada atasan langsung saya di sana. Bagi yang belum tahu, maksud dari ‘atasan langsung’ adalah pimpinan yang kedudukannya satu level di atas kita. Wah, ada masalah pelik ini pikir saya. Ternyata oh ternyata, saya dipanggil untuk menjelaskan kenapa kemarin saat beliau pergi haji, cuti yang dia ambil diubah dari Cuti Tahunan menjadi Cuti Besar. Peristiwa ini sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu yang sama sekali tidak saya duga akan diungkit-ungkit lagi. Yang jadi masalah, atasan langsung saya lupa kenapa cuti beliau diubah makanya dia ‘memanggil bala bantuan’, yaitu saya. Owalah. Hahaha.

Read more

Review Di Balik 98

dibalik-98-e1419848806415

Sebagai mantan aktivis kampus kelas teri, melihat ada film hadir dengan tema reformasi 1998 tentu membuat saya sangat tertarik untuk menontonnya. Nonton berdua bareng istri, pada akhirnya saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa film ini jelek. Sebenarnya secara teknis, dalam pandangan saya yang awam, film ini aslinya cukup bagus. Jantung saya sampai berdegup cukup kencang saat adegan massa yang beringas hendak memeperkosa wanita etnis Tionghoa. Akan tetapi sisi utama sebuah film yaitu cerita pada film ini sangat-sangat lemah dan kosong.

Kasat mata tampak ada sebuah kebingungan cerita apa yang hendak diangkat pada film ini. Akibatnya, film ini kemudian menjadi lebih kepada sekedar visualisasi ulang peristiwa-peristiwa penting pada masa kerusuhan/reformasi 1998. Sayangnya yang divisualisasikan itu adalah hal-hal yang sudah sangat diketahui umum yang bisa digali infonya tanpa penelitian mendalam. Akibatnya, kata ‘dibalik’ yang seharusnya menunjukan ada rahasia atau misteri yang hendak disampaikan menjadi tidak layak untuk digunakan

Read more

Mark Up Anggaran itu Perlu

mark-up

Sebagai pengelola keuangan di sebuah instansi pemerintah, ada pelajaran berharga yang saya petik yang sedikit banyak mengubah persepsi saya tentang pandangan negatif orang-orang. Banyak yang berkata bahwa bekerja sama dengan kantor pemerintahan maka harus mempersiapkan dana ekstra. Beli barang 5 buah, minta ditulis 10 buah. Nota seharusnya Rp. 5.000, minta ditulis Rp. 10.000. Dalam masalah jumlah barang di mark down, sementara untuk harga minta di mark up. Benarkah demikian?

Di satu sisi, saya pribadi tidak memungkiri kalau memang ada (bahkan banyak) oknum pegawai negeri yang suka melakukan mark up anggaran sampai sekian kali lipat untuk keperluan pribadi. Namun yang perlu disadari tidak semua pegawai negeri sebagai pengelola keuangan instansi pemerintahan seperti itu. Kalaupun ada mark up, saya tidak melihat itu sebagai mark up melainkan itu adalah sebuah ‘kewajiban anggaran’. Mark up yang dilakukan ‘terpaksa’ harus dilakukan.

Read more

Nikah Broo..

IMG_9964

Sedikit mau cerita nih, meminjam istilah SK ala pegawai, terhitung mulai tanggal 22 Juni 2014 ada perubahan status di dalam kehidupan saya. Tepat di tanggal tersebut saya resmi melepas status lajang menjadi menikah. Wanita yang beruntung mendapatkan saya itu adalah Teariska Lukita Heratin, biasa dipanggil Uki, adik kelas jaman SMP-SMA yang gara-gara Facebook membuat kami bertemu kembali setelah berabad-abad terpisah.

Memang sebelum menikah kami sudah menjalani hubungan. Pacaran lah istilahnya, walaupun disebut pacaran ya entah tepat atau tidak karena pacaran kami kurang mainstream. Bertemu lagi dengan dia, di hari H pernikahan ketika akad akan berlangsung ternyata hawanya terasa sangat berbeda. Mendadak dia terlihat sangat cantik, secara biasanya dia terlihat biasa saja, cantik nggak jelek juga pasti nggak. Begitu malam hari setelah sah menjadi suami istri, malah jadi lebih cantik dan manis lagi dia. Nikita Willy, Maudy Ayundya, Jessica Mila, Selena Gomes semua lewat. Hahaha.

Read more

Maaf Tanpa Kalau

maafMELIHAT ribut-ribut antara seorang Uztadz dengan operator sound system yang sedang ramai di berbagai media itu, ada satu hal yang bagi saya cukup menarik. Bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar karena bagi saya keduanya salah. Ada miskomunikasi antara dua orang itu yang sayangnya salah satu pihak ada yang begitu angkuh dan over reacted. Peristiwa itu ter-blow up media infotainment sehingga ramailah ribut-ribut itu.

Sang Ustadz dalam sebuah talkshow dan banyak infotainment berkata yang intinya kurang lebih kalau saya ada salah saya minta maaf. Perhatikan kalimat yang saya bold, ada satu hal yang bagi saya menarik, “Kalau saya ada salah saya minta maaf”. Adanya kata ‘kalau’ sadar atau tidak sadar justru menunjukkan bahwa beliau merasa tidak bersalah. Kata itu berarti pengandaian, dalam hal ini pengandaian adanya kesalahan, yang tentunya bagi dia belum pasti  ada. Padahal, mohon maaf jelas sekali dalam kasus ramai-ramai beliau itu juga bersalah, minimal dalam hal etika berhubungan antar manusia.

Read more

Installer Aplikasi SAKPA 2014 Versi 14.0.0

sakpa

SEPERTI biasa, berganti tahun anggaran berarti berganti pula Aplikasi SAKPA yang digunakan oleh instansi pemerintahan. Begitu juga di tahun anggaran 2014, Kementerian Keuangan kembali menghadirkan Aplikasi SAKPA yang kali diberi versi 14.0.0. Untuk instalasinya tidak ada perubahan yang signifikan seperti halnya SAKPA versi tahun sebelumnya, begitu juga dengan setting user-nya.

Aplikasi ini tentu wajib digunakan untuk rekonsiliasi data bulan Januari 2014 sebagai dasar untuk pelaksanaan kegiatan bulan Februari 2014. Kecuali kalian tidak berencana untuk melaksanakan kegiatan anggaran di bulan selanjutnya ya silahkan saja aplikasi ini tidak usah digunakan, yang mana tentu saja itu sangat tidak mungkin.

Read more

Hari Gini Masih Antri Bank Sambil Berdiri? (Kritik untuk Bank Mandiri)

antri_mandiri1

PERTENGAHAN bulan Januari kemarin saya ada sedikit urusan di Bank Mandiri Cabang Purwokerto. Walaupun bank ini bisa dibilang adalah bank yang ternama dan punya nama, saya belum pernah mengunjungi ini bank. Dulu ketika bank ini masih bernama BTN, waktu itu saya masih SMP, saya memang pernah mengunjungi bank itu. Tapi itu dulu sekali. Nama banknya saja masih belum Bank Mandiri. Setelahnya saya sama sekali belum pernah berkunjung lagi.

Sampailah pada hari itu, ketika saya harus bertransaksi di Bank Mandiri. Karena ini urusan kantor jadi saya tidak bisa melakukan kegiatan perbankan via ATM BNI atau BRI pribadi saya. Administrasi pengelolaan keuangan kantor akan jadi tidak sempurna jadi saya sempatkan khusus datang ke Bank Mandiri Cabang Purwokerto. Seperti biasa, di pintu gerbang saya disambut satpam dengan ramah da ditanyai keperluan yang bisa dibantu.

Read more