Alasan Mengambil Kuliah S2

BEBERAPA waktu yang lalu saya berbincang-bincang dengan kawan lama jaman kuliah yang akan  mengambil S2 (magister). Terus terang saya agak kaget juga melihat dia mengambil magister mengingat, mohon maaf, saya tahu kapasitas dia. Lebih jauh ke belakang, di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, saya juga menjumpai seseorang yang tampak bangga mengambil S2 walaupun dari face-nya dia kelihatan sangat muda dan studi yang dia ambil sebenarnya kurang popular.

Berdasarkan pengalaman itu, saya mencoba merekonstruksi motivasi-motivasi sadar dan bawah sadar kenapa banyak orang yang mengambil S2. Sepakat silahkan, tidak sepakat juga tidak mengapa. Apa saja motivasi itu? Ini analisa saya:

1.       Untuk mengejar karier

IMG_0037

Biasanya ini dijalani oleh para bapak-bapak dan ibu-ibu Pegawai Negeri atau instansi yang menerapkan angka kredit untuk promosi. Kecenderungan gelar yang diambil biasanya Magister Manajemen. Kan calon pimpinan gitu. Karena yang penting dapat gelar institusi pengeluar gelar biasanya kurang terkenal. Kenapa seperti itu karena mereka tentu mengakali yang mudah dapat gelarnya, yang tidak mengganggu jam kerja dan yang bisa diajak kompromi.

Institusi pendidikan yang mau seperti itu bisanya kurang ternama. Makanya jangan heran kalau melihat pejabat yang gelarnya berderet, ketika dicek apa almamaternya ternyata dari negeri antah berantah.  Salahkah? Tentu tidak. Secara gelar dan ilmu mungkin ‘diragukan’ karena institusinya kurang teruji kredibilitasnya, tapi secara pengalaman manajerial bukan tidak mungkin mereka sudah sangat mahir. Seperti kata pepatah popular, Experience is the best Teacher, pengalaman mereka bisa menyamai sisi akademis yang seharusnya mereka peroleh.

2.       Untuk mencari karier

tips-mencari-kerja

Ini kebalikan dari point pertama, yaitu kuliah S2 untuk mencari pekerjaan. Beberapa profesi menuntut sang pelamar berpendidikan S2, contohnya dosen. Kalau itu sudah direncanakan dari awal maka itu tentu saja sangat bagus karena tugas dosen itu mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau yang ngajari tidak cerdas, gimana mau bikin cerdas orang lain.

Dalam hal ini, beruntunglah mereka-mereka yang mendapat full support dari orang tua sehingga bisa kuliah lagi. Bagi yang berjuang sendiri, dengan cari beasiswa atau nyambi, saya salut. Berarti mereka orang-orang yang mempunyai visi.

3.       Gengsi

T1SQdLFeBhXXXXXXXX_!!0-item_pic

Inilah uniknya manusia, apalagi kaum Adam. Pride-nya terkadang sangat tinggi, apalagi jika mereka anak orang penting. Untuk menunjang pride atau harga diri itu, menjadi lulusan S1 tentu tidak cukup. Harus ada gelar lain yang mereka dapat, bila perlu bahkan dari luar negeri sekalian. Maka jangan heran, terutama di kalanga sosialita, yang entah apa kerjaannya dan demi apa mereka bisa kuliah lanjut ke luar negeri.

Lagi-lagi beruntunglah mereka. Kelas sosial yang tinggi membuat mereka bisa mwujudkan itu. Yang parah tentu bagi yang secara sosial masuk kelas medioker, tapi ingin meniru kaum jetset, berat di ongkos. Gengsi menang tapi bangkrut.

4.       Daripada Nganggur

pengangguran

Ini yang menurut saya yang akhir-akhir ini banyak terjadi. Lapangan kerja yang sempit, membuat banyak para sarjana yang menjadi non-job. Tentu ini sedikit banyak adalah aib bagi mereka. Maka biasanya daripada kerjaan mending kuliah lagi.

Dalam pandangan saya hal itu menjadi naïf. Belum tentu secara akademik dan hasrat mereka memenuhi syarat mengambil S2. Istilahnya itu hanya memperpanjang nafas saja agar tidak disebut pengangguran. Saya hanya bisa berdoa semoga fenomena itu tidak berlangsung lama.

Saya tidak bisa membayangkan seandainya mereka yang sebenarnya secara akademis biasa-biasa saja tapi karena tidak ada kegiatan maka ambil S2 dan ketika sudah lulus melamar kerja menjadi dosen. Dosen seolah menjadi kerjaan ampas. Secara skill mereka jadi tidak mumpuni, dan entahlah apakah misi mencerdaskan bangsa bisa terwujudkan atau tidak.

Summary:

Dalam observasi tak ilmiah saya, jika diurutkan motivasi pengambil S2 dari terbanyak ke terkecil yaitu 1-4-2-3 atau Mengejar Karir – Daripada Nganggur – Mencari Karir – Gengsi. Menurut saya pendidikan itu sangat penting. Sampai sekarang saya menganggap kuliah S2 adalah sebuah ‘kemewahan’.

Jadi terus terang saya kadang merasa terganggu apabila ada orang yang entah kredibel atau tidak tapi mendapat kesempatan mengambil S2, walaupun tentu itu hak mereka. Tentu ini sangat obyektif. Anda boleh setuju atau tidak. Yang jelas, semoga tulisan ini bermanfaat untuk membuka waswasan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *