Untung Draft Kontrak itu tidak Saya Tandatangani

ttd

BEBERAPA hari yang lalu di Daily Social ada sebuah berita rumor tentang sebuah perusahaan/studio game dari Eropa berkantor di Jogja yang konon dalam waktu singkat pegawainya ramai-ramai mengundurkan diri. Konon penyebabnya ada pada rendahnya apresiasi perusahaan terhadap karyawan, dalam hal ini berupa remunerasi yang kurang setimpal.

Membaca berita itu, saya jadi tersenyum, dan teringat ketika tahun 2010 lalu hampir saja saya bergabung dengan perusahaan itu. Untung saya tidak jadi bergabung dan memilih jalan lain, jadi saya tidak mengalami penyesalan seperti teman-teman yang lain itu.

Dulu saya memang sempat hampir bergabung dengan perusahaan itu. Biasalah fresh graduate kan pasti melamar pekerjaan di mana-mana. Melihat ada perusahaan asing ternama akan membuka studio di Jogja, kota yang sangat saya cintai setelah Purwokerto, tentu saya bersemangat sekali mengikuti testing masuk perusahaan itu. Jangankan saya yang di Jogja, anak Jakarta saja juga ada yang tertarik, mengingat saking terkenalnya perusahaan itu.Jadilah saya waktu itu melamar untuk salah satu posisi teknis di situ.

Ikut berbagai macam tes-nya, tanpa dugaan saya ternyata saya lolos dan diberi kesempatan untuk final interview. Saya sangat gugup waktu itu. Siap atau tidak saya di-interview oleh orang asing, mengingat ini perusahaan asing. Cuek bebek, saya akhirnya tetap berangkat ke kantor itu, yang waktu itu masih kosong karena memang baru benar-benar dibuka.

Interviewer-nya ternyata cewek Vietnam. Orangnya ramah jadi saya merasa nyaman dan jadinya interview berbahasa Inggris itu berjalan lancar. *bangga*

Saat interview tentu ditanyai expected salary. Saya jawab dengan nominal tertentu. Ekspresi interviewer saya agak berubah waktu saya menyebutkan angka itu. Padahal menurut saya itu angka yang sangat standar. Apalagi untuk perusahaan asing sekelas mereka. Kata dia angka itu ketinggian. Ya sudah saya turunkan sekian ratus. Masih ketinggian. Saya turunkan lagi, ternyata masih ketinggian juga.

Saya malah ‘diceramahi’ jangan berharap gaji tinggi karena sebagai perusahaan baru saya katanya akan mendapat reward yang lebih tinggi dari sekedar gaji, yaitu peluang karir. Ya sudah, saya diam saja dan pembicaraan tentang gaji selesai.

Beberapa hari kemudian, kembali tanpa diduga saya mendapat email draft kontrak dari interviewer itu. Dengan kata lain saya diterima di perusahaan top itu. Tentu saja saya amat sangat kaget namun sekaligus gembira. Saya baca baik-baik draft itu. Scroll ke bawah senyum dan semangat saya lama-lama memudar. Penyebabnya tak lain dan tak bukan di bagian gaji. Saya benar-benar tidak menyangka akan dihargai semurah itu.

Dengan gembor-gembor tiap detik mereka mempunyai 5 games yang terjual, masa saya hanya dihargai segitu. Tentu saja saya tidak terima dan coba negosiasikan ulang agar saya mendapat sesuatu yang lebih layak. Secara ini perusahaan swasta asing pasti keketatan bekerjanya juga bakal strict, begitu juga dalam hal target kerja yang pasti akan maksimal, tentu saya harus mendapatkan imbalan yang benar-benar layak. Sempat beberapa kali berbalas email, mereka tidak mau menaikkan jadi ya sudahlah buat apa dipaksa. Dengan berat hati tawaran itu akhirnya saya tolak.

Alhamdulillah ternyata keputusan saya itu memang benar. Buat apa kita memeras keringat demi kemakmuran orang lain sementara sebagai imbalan kita tidak mendapat kesejahteraan yang patut. Dan Tuhan ternyata punya rencana lain buat saya. Tidak jadi di situ, saat ini saya berkerja di instansi pemerintahan sebagai pegawai negeri.

Mungkin hal itu malah jadi bahan tertawaan karena pekerjaan ini terkenal bergaji rendah. Padahal kenyataannya tidak sama sekali. Saat ini THP saya dibandingkan dengan gaji dari perusahaan itu sebesar dua kali lipatnya. Padahal statusnya saya masih ada embel-embel Calon, belum menerima gaji lengkap. Kalau status itu sudah hilang, lebih empat kali lipat bisa saya dapat. Dan itu halal karena resmi dari pemerintah, bukan korupsi. Kantor saya, saya berani bilang, integritasnya tinggi. Korupsi apalagi pungli hampir pasti tidak ada. Alhamdulillah.

Pada akhirnya saya banyak bersyukur, untung draft kontrak peursahaan itu tidak saya terima jadi saya bisa mendapat kesempatan lain yang lebih bagus. Malah saya mendapat sesuatu yang lebih yaitu dekat dengan keluarga. Rencana Tuhan memang hanya Tuhan yang tahu.

One comment

  1. ANDI says:

    menarik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *