Cerita Umrah – Uniknya Berbuka di Pesawat [3]

batavia-air-a330-200-cabin-batavia-airlr

KAMI berangkat ke Saudi untuk melaksanakan ibadah umrah pada tanggal 22 Juli 2012 menggunakan  pesawat Batavia Air. Errr, tentang pesawatnya, saya sangat tidak merekomendasikan bagi kalian yang ingin bepergian ke luar negeri. Kalau ada yang lain lebih baik pakai yang lain. Minimal Garuda lah.

Menuju ke Saudi, kami berangkat jam 14.00 WIB dan sampai sana jam 23.00 WIB, yang mana setelah dikoneversi menjadi waktu Saudi berarti baru pukul 07.00 WSA (Waktu Saudi Arabia). Jadi perjalanannya sebenarnya 9 jam tapi terkurangi selisih waktu 4 jam jadi seolah hanya 5 jam. Kebalikannya tentu saja saat pulang dimana perjalanan yang 9 jam seolah menjadi 12 jam (9 jam perjalanan + 4 jam selisih waktu).

Karena kita melaksanakan perjalanan panjang di pesawat di bulan puasa, hadirlah peristiwa yang sangat unik bagi saya. JAdi ketika itu waktu menunjukkan sekitar pukul 18.00. Waktu Indonesia Barat tentunya secara kami berangkat dari Jakarta. Dalam kondisi di Jakarta, atau paling tidak ya di Jawa lah, jam segitu memang sudah masuk waktu maghrib jadi bisa berbuka.

Nah, hadirlah salah satu ‘provokator’ yang meminta berbuka kepada pramugari. Sang pramugari tentu sebagai pelayan ya memenuhi request dari penumpang tersebut. Berawal dari satu orang itu, banyak juga yang ikut-ikutan minta buka di jam 18.00 WIB itu. Bahkan di rombongan belakang, ada satu biro yang keseluruhan jamaahnya berbuka.

Yang jadi masalah adalah, itu baru jam 18.00 WIB cuy, bukan waktu setempat. Untuk waktu setempat, yang saya pribadi tidak tahu posisi pesawat sedang di mana, masih belum jam enam sore sama sekali. Indikatornya apa? Langit masih terang. Terang sekali. Berasa masih siang. Jadi saya pribadi tentu tidak nyaman jika diharuskan berbuka saat itu, apalagi meminta berbuka.

Sempat ada perdebatan antara beberapa orang tentang boleh tidak berbuka saat itu. Yang menolak mengatakan yang namanya puasa itu ya dari terbit fajar sampai terbenam matahari, nah ini matahari belum terbenam jadi mana boleh berbuka. Yang pro berbuka bilang, memang di sini belum terbenam tapi di Jakarta kan sudah, sementara kita sahurnya di Jakarta. Sahur Jakarta tentu bukanya ya Jakarta dong. Ribut, walaupun tidak sampai sengit. Dan sepengamatan saya pada akhirnya banyak juga yang berbuka.

Kalau melihat argumentasi dua pihak itu, tampak jelas sekali mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Logikanya kita berbuka ya sesuai dengan waktu tempat kita berbuka. Secara dalil juga tepat karena yang mengatakan berbukanya mengikuti Jakarta tidak menghadirkan dalil dan hanya mengatakan ‘seharusnya’ saja.

Saya pribadi pernah mengalami hal tersebut dalam lingkup yang jauh lebih sempit. Saya dulu kuliah di Jogja, asli Purwokerto. Kalau mudik saya berangkat siang agar sampai rumah sudah menjelang magrib. Saya sahur tentu dengan mengikuti waktu Jogja and berbukanya ya sesuai dengan waktu maghrib di Purwokerto, bukan Jogja. Otomatis seperti itu. Saya yakin semua juga mengamini hal tersebut.

Seharusnya mereka-mereka yang di pesawat juga menyadari hal itu. Amat disayangkan kenapa kalau yang magribnya hanya berbeda beberapa menit bisa mengikuti waktu setempat, tapi ketika berhadapan dengan perbedaan waktu 4 jam yang diikuti waktu asal. Kan lucu. Kesannya hanya pengin enaknya saja.

Di pesawat saya tidak duduk bersama dengan keluarga, tapi tanpa berkonsultasi dengan Ayah sekalipun saya bisa dan berani mengambil keputusan untuk tidak berbuka pada saat itu. Ya karena memang belum waktunya berbuka. Dan keluarga kami sepakat seperti itu.

Jadilah kami dan beberapa jamaah lain ‘menambah’ waktu puasa kami sekitar 5 jam lagi. Ketika kami tiba di Saudi waktu menunjukan sekitar pukul 23.00 WIB alias jam 19.00 Waktu Saudi, tepat ketika waktu Maghrib tiba. Insyallah kami nyaman dengan yang kami laksanakan.

Hikmah yang bisa diambil adalah, berpuasalah jangan dengan menuruti hawa nafsu. Laksanakan sesuai ketentuan. Kalau ketentuannya belum masuk maghrib ya jangan memaksakan berbuka dengan membawa argumen-argumen yang ‘lucu’ dan kurang masuk akal.

Nyatanya, mereka yang berbuka mengikuti WIB saat di Saudi, ketika pulang berbukanya mengikuti WIB walaupun sahurnya pakai Waktu Saudi. Kalau mengikuti waktu Saudi seharusnya berbukanya sekitar jam 23.00 WIB dong. Dan tidak ada yang melakukan itu ternyata. :D

*nb: Gambar hanya sekedar ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *