Timnas Indonesia AFF 2012: Bukan yang terbaik tapi yang terhebat

foto-Daftar-Skuad-Resmi-Timnas-Indonesia-Piala-AFF-SUZUKI-Cup-2012

SUDAH bukan rahasia umum, timnas Indonesia yang turun di ajang AFF (ASEAN Football Federation) Cup adalah bukan tim terbaik yang berisi pemain-pemain terbaik dari Liga Indonesia. Konon karena inilah kemarin (24/11/2012) Indonesia hanya bisa bermain imbang 2-2 melawan Laos.

Di berbagai forum anti PSSI hasil seri ini  tentu jadi obyekan yang sangat luar biasa untuk mencaci maki timnas. Sudah mandul karena hanya bisa menang 1-0 lawan Timor Leste di ajang uji coba, kalah atau hanya bisa sekedar seri lawan negara lain, sekarang malah juga hanya bisa seri melawan negara yang sebelumnya selalu jadi lumbung gol Indonesia dan negara ASEAN yang lain.

Bahwa mereka bukan pemain yang terbaik di Indonesia saat ini, saya mengakui itu, tapi bagi saya mereka itu adalah pemain terbaik di posisinya yang bisa bermain saat ini. Pilihan pemain yang ada sangat terbatas. Adalah sangat naïf jika menyalahkan kenapa PSSI tidak memanggil pemain dari ISL baik yang naturalisasi macam Gonzales dan Greg maupun yang asli Indonesia macam Hamka, Firman maupun Bustomi dan pemain ISL lain.

Silahkan baca berita lagi. PSSI sudah memanggil mereka bro, mereka yang menolak. Lebih tepatnya KPSI melarang mereka bergabung. KPSI melarang mereka ikut TC dan bahkan bikin Timnas sendiri yang mereka juluki The Real Garuda (TRG). TRG ini selamanya akan menjadi sejarah kelam dan memalukan, dimana mereka berisi pemain yang menolak dipanggil Federasi demi bergabung dengan Timnas sempalan yang membuang uang jauh-jauh ke Australia hanya untuk latih tanding melawan tim pemuda Gereja.

Dalam perkembangannya KPSI memang konon mengizinkan pemain ISL bergabung. Tapi ya apalah gunanya kalau mereka baru mengizinkan tak kurang dari seminggu sebelum gelaran AFF dan minta mereka jadi pemain inti pula. Hanya orang bodoh yang berani mensyaratkan itu.

Pertama, memilih pemain yang bertanding adalah tugas Pelatih, bukan pengurus apalagi organisasi eksternal yang eksistensinya tidak diakui pihak manapun. Kedua, memaksakan masuk pemain di detik terakhir juga akan sangat mengganggu keharmonisan tim. Mengganggu skema yang mulai terbentuk. Kecuali KPSI memang ingin mengacaukan dari dalam, memasukkan pemain ISL saat itu sudah sangat terlambat. Jadi salahkanlah KPSI atas tidak masuknya pemain ISL, bukan PSSI.

Okelah tak usah kita perpanjang tentang pemain ISL yang tidak masuk tim. Silahkan anda buka wawasan anda dengan banyak membaca dari sumber-sumber yang lepas dari kepentingan, anda akan sadar bahwa PSSI ada di pihak yang benar. Baca dengan baik dan anda akan lihat betapa PSSI berusaha memperbaiki diri diantaranya dengan berusaha lepas dari mafia pertandingan dengan bekerja sama dengan Investigator asal Inggris, mengaudit keuangan dengan bantuan Deloitte, perusahaan yang sangat reliable yang sudah malang melintang di pesepakbolaan dunia, bekerjasama dengan BPKP, pembinaan usia dini dengan dipimpin Timo Scheneuman dan banyak usaha lain. Buka wawasan anda dan jangan terkekang pada fanatisme terhadap klub tertentu.

Bagi saya pemain timnas di AFF ini memang bukan yang terbaik, tapi mereka adalah yang TERHEBAT. Mereka berani meperjuangkan idealisme mereka. Mereka tahu apapun hasil yang mereka raih pasti akan dihina di dalam negeri. Dihina dengan julukan pemain tak berkualitas dan bergabung di tim Emprit seolah menjadi makanan sehari-hari mereka. Tapi mereka tak peduli. Mereka tetap bergabung untuk memperjuangkan supremasi sepakbola Indonesia.

Sebagian dari mereka sama seperti pemain ISL dan pekerja lain, mereka butuh makan. Tapi lihat Okto Maniani. Dia belum punya klub, tapi dia abaikan demi membela Indonesia dulu. Juga Andik Vermansyah, dia juga belum punya klub karena kontrak dengan Persebaya sudah habis dan dalam proses perpanjangan, namun untuk sementara dia tinggalkan dulu.

Bambang Pamungkas. Dia pemain ISL, tapi dia berani menentang klubnya yang melarangnya bergabung karena saya yakin dia sadar pemain-lah yang pegang power, bukan klub. Buat apa menuruti klub dilarang bergabung timnas padahal menjadi pemain timnas adalah puncak karir seorang pemain.

Raphael Maitimo, Tonnie Cussel dan Johny van Beukeuring. Mereka rela meninggalkan kewarganegaraan asal mereka demi Indonesia. Bagi saya mereka hebat. Sangat hebat. Dan saya, serta para pecinta timnas yang lain, sangat mengapresiasi mereka.

Apapun hasil yang diperoleh timnas di AFF, tetap wajib bagi kita untuk mensupport mereka. Saya akan tetap mendukung Indonesia. Saya yakin para pahlawan bangsa di masa lalu akan malu melihat mereka-mereka yang mencemooh timnas dengan keterbatasan yang ada.

Ibarat saat perjuangan kemerdekaan, adalah sangat bodoh menertawakan para pejuang berperang menggunakan bambu runcing melawan penjajah yang menggunakan senjata api. Kekuatan memang terbatas tapi itu bukan halangan. Yang paling utama adalah berjuang. Tetap semangat !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *