Bekerjalah dengan Ikhlas dan Tanggungjawab

responsibility

TULISAN ini berkaitan dengan kejadian di kantor. Monggo diikuti jika berkenan, akan tetapi sebagai disclaimer tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak-pihak tertentu. Begini ceritanya, kantor saya sebagai instansi pemerintah sumber daya keuangan untuk kehidupan kantor menggunakan uang negara. Di awal tahun 2013 ini, ketika rincian dana tersebut turun, ada beberapa item yang diberi tanda bintang yang kurang lebih berarti mata anggaran tersebut diblokir alias belum bisa digunakan.

Setelah sekian lama menunggu, blokir tersebut pertengahan bulan kemarin sudah dibuka dan dengan demikian apa-apa yang sebelumnya tidak bisa digunakan, dalam artian dicairkan, sudah bisa dilaksanakan. Berkaitan dengan hal tersebut, kemudian saya mencairkan item tertentu dengan jumlah yang cukup lumayan untuk disalurkan kepada yang berhak menerima.

Kepada salah satu pihak, saya ada menyerahkan hasil pencairan yang cukup besar mencapai enam digit angka. Angka tersebut adalah angka yang cukup besar, mungkin setara gaji beliau. Nah sesudah saya serahkan, ternyata oh ternyata ya sudah. Berakhir begitu saja. Hahaha.

Saya membayangkan, seandainya bukan saya yang mengerjakan tugas ini, pasti itu orang dongkol bukan main. Apalagi kalau orang itu tipe-tipe Orde Lama yang money oriented. Ya bayangkan saja, capek-capek mencairkan uang, tapi tidak dapat ‘jatah’ dari orang yang mendapat sampai enam digit. Yang didapat cuma ucapan terima kasih saja. Hahaha..

Syukurlah saya insyallah bukan tipe-tipe pengutip atau peminta jatah. Apa yang menjadi tugas saya, pasti saya laksanakan semaksimal mungkin. Insyallah saya anti gratifikasi. Saya usahakan yang masuk ke dompet saya ya uang yang berkah yang memang hak saya, bukannya mengharap-harap atau bahkan meminta-minta. Dan apa-apa yang jadi kemampuan saya, ya saya laksanakan, bukannya menunda-nunda demi kepentingan pribadi. Itu yang saya tanamkan di benak saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kantor yang saya huni. Saya ingin dikenal karena integritas saya, bukan dikenal atas sesuatu yang lain, apalagi dikarenakan hal negatif.

Itu yang saya laksanakan sebelum mendapat job desk yang sekarang saya pegang juga di job desk saya yang lama. Di job desk saya yang dulu, di bagian pelayanan, wuih bukan main, bisikan-bisikan untuk melakukan hal yang tidak baik sudah saya alami bahkan ketika saya baru akan melaksanakan tugas.

Untungnya saya konsisten dengan apa-apa yang menjadi tekad saya. Dan insyallah ketika saya mendapat job desk baru, job desk yang lama saya tinggalkan dengan khusnul khotimah. Begitu pula dengan job desk yang ini. Entah kapan ini berakhir, saya usahakan untuk nantinya saya tinggalkan dengan kesan yang baik. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya, dengan penuh tanggung jawab dan professional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *