Maaf Tanpa Kalau

maafMELIHAT ribut-ribut antara seorang Uztadz dengan operator sound system yang sedang ramai di berbagai media itu, ada satu hal yang bagi saya cukup menarik. Bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar karena bagi saya keduanya salah. Ada miskomunikasi antara dua orang itu yang sayangnya salah satu pihak ada yang begitu angkuh dan over reacted. Peristiwa itu ter-blow up media infotainment sehingga ramailah ribut-ribut itu.

Sang Ustadz dalam sebuah talkshow dan banyak infotainment berkata yang intinya kurang lebih kalau saya ada salah saya minta maaf. Perhatikan kalimat yang saya bold, ada satu hal yang bagi saya menarik, “Kalau saya ada salah saya minta maaf”. Adanya kata ‘kalau’ sadar atau tidak sadar justru menunjukkan bahwa beliau merasa tidak bersalah. Kata itu berarti pengandaian, dalam hal ini pengandaian adanya kesalahan, yang tentunya bagi dia belum pasti  ada. Padahal, mohon maaf jelas sekali dalam kasus ramai-ramai beliau itu juga bersalah, minimal dalam hal etika berhubungan antar manusia.

Kalau kita bicara default atau bawaan dari sifat manusia, semua tahu bahwa manusia tempatnya salah. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, nabi sekalipun. Oleh karena ini menggunakan kata ‘kalau’ bagi saya sangat tidak tepat. Beliau pasti salah, saya pasti salah dan semua orang pasti punya kesalahan. Akan jauh lebih bijak jika yang diucapkan adalah: Saya memohon maaf atas segala kesalahan saya, baik yang tidak sengaja atau sengaja saya lakukan. Bentuk antisipasi siapa tahu kita di pihak yang benar bukan pada pengandaian di kata ‘kalau’ tapi pada ‘yang tidak sengaja atau sengaja saya lakukan’. Itu jauh lebih ksatria karena ya itu tadi, manusia pasti melakukan kesalahan.

Sayangnya budaya meminta maaf dengan imbuhan ‘kalau, tidak hanya dilakukan ustadz itu saja. Banyak sekali saya menjumpai permintaan maaf seperti itu. Bagi saya itu cenderung seperti permintaan maaf yang tidak tulus. Mungkin saja yang bersangkutan tulus meminta maaf, tapi alam bawah sadar membuatnya berkata seperti itu karena sering menjumpai permintaan maaf model itu.

Nah, mumpung ada kesempatan, mari kita perbaiki diri kita masing-masing. Hindari kata kalau dalam meminta maaf. Meminta maaf bukanlah suatu aib. Meminta maaf adalah tindakan yang terhormat. Tidak ada salahnya kan merubah pola pikir? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *