Review Di Balik 98

dibalik-98-e1419848806415

Sebagai mantan aktivis kampus kelas teri, melihat ada film hadir dengan tema reformasi 1998 tentu membuat saya sangat tertarik untuk menontonnya. Nonton berdua bareng istri, pada akhirnya saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa film ini jelek. Sebenarnya secara teknis, dalam pandangan saya yang awam, film ini aslinya cukup bagus. Jantung saya sampai berdegup cukup kencang saat adegan massa yang beringas hendak memeperkosa wanita etnis Tionghoa. Akan tetapi sisi utama sebuah film yaitu cerita pada film ini sangat-sangat lemah dan kosong.

Kasat mata tampak ada sebuah kebingungan cerita apa yang hendak diangkat pada film ini. Akibatnya, film ini kemudian menjadi lebih kepada sekedar visualisasi ulang peristiwa-peristiwa penting pada masa kerusuhan/reformasi 1998. Sayangnya yang divisualisasikan itu adalah hal-hal yang sudah sangat diketahui umum yang bisa digali infonya tanpa penelitian mendalam. Akibatnya, kata ‘dibalik’ yang seharusnya menunjukan ada rahasia atau misteri yang hendak disampaikan menjadi tidak layak untuk digunakan

Dari awalpun seharusnya saya sadar, mengambil tema kerusuhan 1998 namun tidak ada resistensi dari para pihak yang terkait dengan persitiwa ini seharusnya membuat saya sadar film ini pasti film ringan. Bayangkan, ada kata ‘dibalik 98’, jangan-jangan nanti di film ini akan ketahuan bahwa Prabowo Subianto-lah dalang kerusuhan 1998. Atau bisa jadi Wiranto selaku Menhankam Pangab sebagai dalangnya. Atau jangan-jangan justru peristiwa 1998 adalah settingan Soeharto. Atau jangan-jangan Soeharto itu vampire seperti Abraham Lincoln? *oke, ini memang terlalu absurd*. Ada banyak unsur misteri yang bisa digali dari sebuah kata ‘dibalik’.

Yang saya lihat, kata ‘dibalik’ disini bukan kepada dalang tapi lebih kepada cerita tokoh pendukung pada saat peristiwa 1998. Ada cerita cinta mahasiswa Tionghoa dan mahasiswi pribumi yang ikut dalam pergerakan mahasiswa. Kebetulan kakak dari mahasiswi tersebut sedang hamil dan hilang ditelan gelombang kerusuhan sementara suaminya yang tentara tak bisa mendampingi karena tugas pengamanan. Sayangnya konflik yang tercipta sangat minim dan bahkan tidak ada. Pertentangan keluarga, yang mana yang satu adalah tentara sementara satunya mahasiswa misalnya tadinya saya kira jadi salah satu fokus cerita karena hal itu ikut dijual di trailer-nya. Ternyata yang ada di di film ya sebatas apa yang ada di trailernya saja.

Film ini bagi saya tidak bisa mengeksplorasi cerita itu. Pada akhirnya di film ini seperti yang sudah saya sebutkan tadi hanya memvisualisasikan ulang peristiwa 1998 yang sudah banyak beredar di berbagai berita. Sisi postifnya, bagi mereka generasi 2000an paling tidak mereka bisa tahu gambaran kondisi 1998. Tapi ada sisi ‘epik’ dari film ini yaitu banyaknya tokoh KW yang justru malah lucu ketika melihatnya. Ada Pandji Pragiwaksono sebagai Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Kuncoro sebagai BJ Habibie, Dian ‘Jaka Tingkir’ Sidik sebagai Wiranto, dan beberapa cameo lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *